Kumpulan Makalah Perkuliahan

Makalah: Hadist Tentang Evaluasi



Hadist Tentang Evaluasi

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Dalam menjalankan misi pendidikan, untuk melihat tingkat atau kadar penguasaan sahabat terhadap materi pelajaran, nabi SAW juga mengevaluasi sahabat-sahabatnya. Dengan mengevaluasi sahabat-sahabat, rasulullah mengetahui kemampuan para sahabat dalam memahami ajaran agama atau dalam menjalankan tugas. Untuk melihat hasil pengajaran yang dilaksanakan, rasulullah SAW sering mengevaluasi hafalan para sahabat dengan cara menyuruh para sahabat membacakan ayat-ayat al-qur’an dihadapannya dengan membetulkan hafalan dan bacaan mereka yang keliru.
Evaluasi juga dapat dilakukan dengan cara bertanya tentang suatu masalah hukum secara langsung kepada rasulullah, lalu rasulullah menjawabnya.

B.Rumusan Masalah
1.Bagaimana Hadist tentang Evaluasi?
2.Bagaimana Prinsip-prinsip Evaluasi Pendidikan Islam?
3.Bagaimana Tujuan Evaluasi?
4.Bagaimana Analisis Hadist tersebut ?
5.Bagaimana Nilai Tarbawi yang Terkandung di Dalamnya?

C.Tujuan Pembahasan
Diharapkan mahasiswa mampu memahami mengerti menyampaikan hadist yang terkait dengan evaluasi

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Evaluasi
Secara harfiah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, evaluation, yang berarti penilaian atau penaksiran. Dalam bahasa Arab, dijumpai istilah imtihân, yang berarti ujian, dan khataman yang berarti cara menilai hasil akhir dari proses kegiatan. Salah satu tujuan evaluasi pendidikan adalah untuk mengetahui ketercapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan evaluasi, suatu kegiatan dapat diketahui atau ditentukan taraf kemajuannya.

Berhasil atau tidaknya pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya dapat dilihat setelah dilakukan evaluasi terhadap output yang dihasilkannya. Abdul Mujib dkk mengungkapkan, bahwa untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan oleh peserta didik diperoleh melalui evaluasi. Dengan kata lain, penilaian atau evaluasi digunakan sebagai alat untuk menentukan suatu tujuan pendidikan dicapai atau tidak. Atau untuk melihat sejauhmana hasil belajar siswa sudah mencapai tujuannya.

Evaluasi adalah suatu proses dan tindakan yang terencana untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan (peserta didik) terhadap tujuan (pendidikan), sehingga dapat disusun penilaiannya yang dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan. 


B.Hadist Tentang Evaluasi
Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Proses belajar dan mengajar adalah proses yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu tindakan atau kegiatan tersebut dinamakan hasil belajar. 

Dalam menjalankan misi pendidikan, untuk melihat tingkat atau kadar penguasaan sahabat terhadap materi pelajaran, nabi SAW juga mengevaluasi sahabat-sahabatnya. Dengan mengevaluasi sahabat-sahabat rasulullah mengetahui kemampuan para sahabat dalam memahami ajaran agama atau dalam menjalankan tugas. Untuk melihat hasil pengajaran yang dilaksanakan, rasulullah SAW sering mengevaluasi hafalan para sahabat dengan cara menyuruh para sahabat membacakan ayat-ayat al-qur’an dihadapannya dengan membetulkan hafalan dan bacaan mereka yang keliru.

Evaluasi juga dapat dilakukan dengan cara bertanya tentang suatu masalah hukum secara langsung kepada rasulullah, lalu rasulullah menjawabnya. Sebagaimana terdapat dalam riwayat berikut ini :

حدثناقتيبة, جدثنااسماعيلبنجعفر, عنعبداللهبندينار, عنابىعمرقال, قالرسولاللهصلىاللهعليهوسلم, "انمنشجرشجرةلايسقطورقها, وإنهامثلالمسلم, فحدثونىماهى؟فوقعالناسفىشجرةاليوادى, قال, عبدالله, ووقعفىنفسىأنهاالنخلة, فاستحييت. ثمقالوا, " حدثناماهييارسولالله." قال, " هيالنخلة." (رواهالبخارى).

Artinya: Menceritakan kepada kami Qutaibat, menceritakan kepada kami Ismail ibn Ja’far, dari Abdullah Ibn Dinar, dari Ibn Umar, ia berkata, Rasulullah SAW Bersabda, “ Sesungguhnya diantara pepohonan ada satu pohon yang daunnya tidak jatuh ke tanah (secara berguguran). Pohon itu bagaikan seorang muslim. Jelaskanlah kepadaku pohon apa itu? “ orang-orang mengatakan pohon itu terdapat di pedalaman. ‘Abdullah Berkata, “ dalam benakku terbetik pikiran bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma. Akan tetapi aku malu menjawabnya. “ Orang-orang barkata “ beritahukanlah kepada kami, pohon apakah itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab Pohon kurma.” (HR. Bukhari).

Disamping menguji pemahaman sahabat, tentang ajaran agama, rasulullah juga di evaluasi oleh Allah melalui malaikat jibril. Sebagaimana kisah kedatangan malaikat jibril kepada nabi Muhammad SAW. Ketika beliau sedang mengejar sahabat di suatu majlis. Malaikat jibril menguji dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut pengetahuan beliau tentang iman, islam dan ihsan.

حدثنااسماعيلبنابراهيماخبرناابواخيانالتيميعنابيزرعةعنابيهريرةقال, " كانالنبيصلىاللهعليهوسلميومبارزاللناسفاتاهرجلفقال, ماالايمان؟قال, الايمانانتؤمنباللهوملائكتهوبلقائهورسولهوتؤمنبالبعث. " قال, " مالاسلام؟قال, انتعبداللهولاتشركبه, وتقيمالصلاة, وتؤدىالوكاةالمفروضة, وتصومرمضان. قال," مالاحسان؟ " قال, انتعبداللهكانكتراهفإلمتكنتراهفإنهيركزقال: منالساعة؟قال: " مالمسئولعنهااعلممنالسائل, وسأخبركعناشراطها: اذاولدتالامةربها , واذاتطاولرعاةالابلالبهمفىالبنيات , فىخمسلايعلمهنالاالله, ثمتلالاالنبىصلياللهعليهوسلم: " اناللهعندهعلمالساعة ...... : لقمان : 34) الاية, ثمادبر, فقالردوه, فلميروشيئافقال, " هذاجبريلجاءيعلمالناسدينهم." (رواهالبخارى)

Dari kitab Arba’in Nawawi
Artinya : menceritakan kepada kami ismail ibn ibrahim, memberikan kepada kami ibn hayyan al tamimi dari abi zar’at dari abi hurairat, ia berkata “ pada suatu hari ketika nabi duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang bertanya, “apakah iman itu? Jawab nabi, “iman adalah percaya kepada allah, percaya kepada malaikatnya, dan pertemanan denganNya, para rasulNya, dan percaya kepada hari berbangkit dari kubur. Lalu laki-laki itu bertanya kembali, apakah islam itu? Jawab Nabi SAW, “ islam adalah menyembah kepada allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, mendirikan sholat, menunaikan zakat yang difardukan dan berpuasa di bulan ramadhan. Lalu laki-laki itu bertanya lagi, apa ihsan itu? Nabi SAW menjawab “ ihsan adalah menyembah Allah seolah-olah engkau menyembahNya,jika engkau tidak melihatNya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. Lalu laki-laki itu bertanya lagi “ apakah hari kiamat itu? Nabi SAW menjawab “ Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui dari pada orang yang bertanya, tetapi saya beritahukan kepadamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tiba hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah melahirkan majikannya, dan jika pengembala onta dan ternak lainnya berlomba-lomba membangun gedung. Dan termasuk dalam lima macam yang tidak mengetahuinya kecuali Allah, yaitu tersebut dalam ayat : “ sesungguhnya allah ahnya pada sisinya sajalah yang mengetahui hari kiamat, dan dia pula yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim ibu, dan tidak seorangpun yang mengetahui dimanakah ia akan mati. Sesungguhnya Allah maha mengetahui sedalam-dalamnya.” Kemudian pergilah orang itu. Lalu nabi menyuruh sahabat, “ antarkanlah orang itu. Akan tetapi sahabat tidak melihat bekas orang itu. Maka nabi SAW bersabda, itu adalah malaikat jibril AS yang datang mengajarkan bagimu.” (HR. Bukhari).

Adapun sistem pengukuran (maesuramen) yang digunakan Nabi sendiri tidak menggunakan sistem laboratorial seperti dalam dunia ilmu pengetahuan modern sekarang. Namun prinsip-prinsipnya menunjukkan bahwa sistem maenstrument juga terdapat dalam hadits nabi. Nabi melakukan pengukuran terhadap prilaku manusia dengan memberikan penjelasan tentang tanda-tanda seseorang yang beriman, misalnya mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, ketika menyaksikan perbuatan mungkar, ia berusaha mengubah dengan kekuatan fisiknya, lisannya atau dengan hatinya. Tapi yang terahir ini menunjukkan selemah-lemahnya iman.

Dengan demikian evaluasi yang diterapkan pada masa rasulullah SAW adalah secara langsung melihat tingkah laku para sahabat. Mendengarkan bacaan sahabat tentang ayat-ayat al-qur’an, tanpa menggunakan buku catatan sebagaimana sekarang ini. Bila belum sampai kepada ukuran yang diharapkan, Rasulullah SAW memberikan penekanan dan penambahan materi, berupa nasihat, arahan dan sebagainya. 

C.Prinsip dalam Evaluasi
1.Prinsip kontiniutas (kesinambungan)Bila aktivitas pendidikan Islam di pandang sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, maka evaluasi pendidikannya pun harus di lakukan secara kontinu. Prinsip ini selaras dengan ajaran istiqomah dalam Islam, yaitu setiap umat Islam hendaknya tetap tegak beriman kepada Allah, yang di wujudkan dengan senantiasa mempelajari Islam, mengamalkannya, serta tetap membela tegaknya agama Islam, sungguhpun terdapat berbagai tantangan yang senantiasa di hadapinya.

2.Prinsip menyeluruh  Evaluasi itu harus di lakukan secara menyeluruh (komprehensif), meliputi  berbagai aspek kehidupan anak didik, baik yang menyangkut iman, ilmu maupun amalnya. Ini di lakukan karena umat Islam memang di suruh untuk mempelajari, memahami, serta mengamalkan Islam secara menyeluruh. Seperti firman Allah dalam Q.S. Al Baqarah ayat 208 :
يَايُّهَأَاالَّذِينَآَمَنُواادْخُلُوافِيالسِّلْمِكَافَّةًوَلَاتَتَّبِعُواخُطُوَاتِالشَّيْطَانِإِنَّهُلَكُمْعَدُوٌّمُبِينٌ
artinya ;“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.
3.Dan sebagai guru perlu mengedepankan sifat kasih saying dan rasa hilim terhadap murid juga hendaknya bila menyuruh kepada hal yang baik maka hendaklah denagan cara yang baik pula.
4.Prinsip objektivitas Objektif dalam arti bahwa evaluasi itu di laksanakan dengan sebaik-baiknya, berdasarkan fakta dan data yang ada tanpa di pengaruhi oleh unsur-unsur subjektifitas dari evaluator
5.Valid. Prinsip ini sangatlah penting bagi pelaksanaan evaluasi, karena perisip memberikan informasi yang benar. Sehingga tidak akan terjadi kesalah pahaman mengenai pendidikan Islam.
6.Mendidik. Evaluasi ini di lakukan agar peserta didik belajar dan pendidik juga mengajar dengan lebih baik.
7.Terbuka. Dalam prinsip ini, prosedur, kriteria, dan dasar pengambilan keputusan penilaian terbuka bagi siapa saja.
8.Bermakna. Evaluasi yang di laksanakan harus memiliki arti dan manfaat bagi peserta didik, guru, dan orang tua .

D.Tujuan Evaluasi
Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Proses belajar dan mengajar adalah proses yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu tindakan atau kegiatan tersebut dinamakan hasil belajar.

E.Fungsi Evaluasi
Kalau dilihat dari prinsip evaluasi yang terdapat dalam Al Qur’an dan praktek yang dilakukan oleh Rosululloh SAW, maka evaluasi berfungsi sebagai berikut:
1.Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dihadapi (Qs. Al Baqoroh 155)
2.Untuk mengetahui sejauh mana atau sampai dimana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan Rosululloh kepada umatnya (Qs. An Naml 40)
Setiap perbuatan dan tindakan dalam pendidikan selalu menghendaki hasil, Pendidik selalu berharap bahwa hasil yang diperoleh sekarang lebih memuaskan dari hasil yang diperoleh sebelumnya. Untuk menentukan dan membandingkan antar hasil satu dengan hasil yang lainnya diperlukan adanya evaluasi.
Seorang pendidik melakukan evaluasi disekolah mempunyai fungsi sebagai berikut :
a)Untuk mengetahui peserta didik yang mana yang terpandai dan terbodoh dikelasnya 
b)Untuk mengetahui apakah baha yang telah diajarkan sudah dimiliki peserta didik atau belum
c)Untuk mendorong persaingan yang sehat antar sesame peserta didik
d)Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mengalami didikan dan ajaran
e)Untuk mengetahui tepat atau tidaknya guru memilih bahan, metode, dan berbagai penyesuaian dalam kelas
f)Sebagai laporan terhadap orang tua peserta didik dalam bentuk raport ijazah, piagam dan sebagainya

Jenis-jenis Penilaian (Evaluasi)
1.Penilaian Formatif, yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh para peserta didik setelah menyelesaikan progam dalam satuan materi pokok pada suatu bidang study tertentu :
a.Fungsi
Untuk memperbaiki proses pembelajaran kearah yang lebih baik dan efisien atau memperbaiki satuan atau rencana pembelajaran
b.Tujuan
c.Untuk mengetahui hingga dimana penguasaan peserta didik tentang materi yang telah diajarkan dalam satu rencana atau satuan pelajaran 
d.Aspek-aspek yang dinilai
Yang dinilai ialah hasil kemajuan belajar peserta didik yang meliputi: pengetahuan, ketranpilan, sikap terhadap materi ajar agama yang disajikan.
2.Penilaian Sumatif yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik yang telah selesai mengikuti pembelajaran dalam satu caturwulan semester atau akhir tahun.
a.Fungsi
Untuk mengetahui angka atau nilai murid setelah mengikuti progam pembelajaran dalam satu wulan atau semester
b.Tujuan
Untuk mengetahui taraf hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik setelah melakukan progam pembelajaran dalam satu semester, akhir tahun suatu progam pembelajaran pada suatu unit pendidikan tertentu
c.Aspek-aspek yang dinilai
Ialah kemajuan hasil belajar meliputi pengetahuan, ketrampilan, sikap dan penguasaan murid tentang materi pembelajaran yang diberikan.
d.Waktu pelaksanaan
Penilaian ini dilaksanakan sebelum peserta didik mengikuti proses pembelajaran permulaan atau peserta didik tersebut baru akan mengikuti pendidikan disuatu tingkat tertentu.


BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Evaluasi yang diterapkan pada masa rasulullah SAW adalah secara langsung melihat tingkah laku para sahabat. Mendengarkan bacaan sahabat tentang ayat-ayat al-qur’an, tanpa menggunakan buku catatan sebagaimana sekarang ini. Bila belum sampai kepada ukuran yang diharapkan, Rasulullah SAW memberikan penekanan dan penambahan materi, berupa nasihat, arahan dan sebagainya.

Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Proses belajar dan mengajar adalah proses yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu tindakan atau kegiatan tersebut dinamakan hasil belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Ramayulis. 2002.  Ilmu Pendidikan Islam.  Jakarta. Kalam Mulia
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milennium Baru, Jakarta; PT Logis, 1999.
http://rachmadawati.blogspot.com/2012/12/fungsi-tujuan-dan-kegunaan-evaluasi.html
http://insanicita.blogspot.com/2012/03/prinsip-prinsip-evaluasi-pendidikan.html
http://manbaululuumgs.blogspot.com/2012/05/hadits-tarbawi-evaluasi-pendidikan.html


0 Komentar untuk "Makalah: Hadist Tentang Evaluasi"

Back To Top