Makalah: Konsep Pendidikan Islam

Makalah: Konsep Pendidikan Islam
Makalah: Konsep Pendidikan Islam

Konsep Pendidikan Islam
A. Pengertian Konsep Pendidikan Islam 
Konsep merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu objek. Menurut Soedjadi konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata. 

Pendidikan islam dalam dunia pendidikan memang memiliki makna yang beragam. Pendidikan islam pada umumnya disebut dengan tarbiyah. Tarbiyah berasal dari bahasa arab, dasar kalimatnya adalah tiga huruf ra, ba, ba. Dari ketiga huruf ini terbentuk berbagai kalimat yang memberikan pengertian tarbiyah.

Menurut Najib Khalid al-‘Amir, bahwa Tarbiyah berasal dari tiga pengertian kata yaitu: “Rabbaba-Rabba-Yurabbi” (ربب-ربى-يربي) yang artinya “memperbaiki sesuatu dan meluruskan”. Kata Rabba (ربى) berasal dari kata “Ghatha-Yughati” dan “Halla-Yuhalli” (غطى-يغطي dan حلى-يحلي) yang artinya “menutupi”. Dari fi’il “Rabba-Yurabbi” (ربي – يربي) kata ‘Ar-Rabbu – Tarbiyatan” (الرب dan تربية) ditujukan kepada Allah SWT yang artinya Tuhan segala sesuatu, raja dan pemiliknya. Ar-Rabb “Tuhan yang diaati”. “Tuhan yang memperbaiki”. رب العالمين dalam surat al-fatihah Juga ditegaskan ar-Rabbu merupakan mashdar yang bermakna tarbiyah yaitu menyampaikan sesuatu sampai titik kesempurnaan sedikit demi sedikit”. 

Dari pendapat di atas, dapat dipahami bahwa tarbiyah secara etimologi memiliki makna yang luas dan bermacam-macam dalam penggunaannya, sehingga kata tersebut dapat diartikan menjadi makna “pembinaan, penciptaan, perbaikan, dan semuanya menuju kepada kesempurnaan sesuatu secara bertahap”.

Najib Khalid al-‘Amir menyebutkan lima sisi pengertian tarbiyah. Hal ini dapat menggambarkan konsep pendidikan islam, yang dipaparkan sebagai berikut:
1.Tarbiyah adalah menyampaikan sesuatu untuk mencapai kesempurnaan.
2.Tarbiyah adalah menentukan tujuan melalui persiapan sesuai batas kemampuan untuk mencapai kesempurnaan .
3.Tarbiyah adalah sesuatu yang dilakukan secara bertahap dan sedikit demi sedikit oleh seorang pendidik yang Pandai memotivasi dan memiliki kemampuan yang matang agar mencapai keberhasilan tarbiyah. 
4.Tarbiyah dilakukan secara berkesinambungan, tahapan-tahapannya sejalan dengan kehidupan, tidak berhenti pada batas tertentu, terhitung dari buaian sampai ke liang lahat.
5.Tarbiyah adalah tujuan terpenting dalam kehidupan, baik secara individu maupun keseluruhan. Sasaran tarbiyah adalah kemaslahatan ummat, asas yang paling hakiki adalah mencapai ridho Allah.

Abdurrahman al-Nahlawi menyempurnakan pengertian pendidikan islam (tarbiyah) diatas. Beliau mengemukakan beberapa kesimpulan, yaitu:
“pertama, pendidikan merupakan kegiatan yang betul-betul memiliki tujuan, sasaran, dan target;”
kedua, pendidik yang sejati dan mutlak adalah Allah SWT; 
ketiga, pendidikan menuntut terwujudnya program berjenjang melalui peningkatan kegiatan pendidikan dan pengajaran selaras dengan langkah-langkah yang sistematis yang membawa anak dari suatu perkembangan ke perkembangan lainnya; dan 
keempat, peran seorang pendidik harus sesuai dengan tujuan Allah SWT menciptakannya. artinya, pendidik harus mampu mengikuti syariat agama Allah”

Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. fungsi dan tujuan pendidikan tertulis dalam uu no. 20 tahun 2003 sisdiknas pasal 3 sebagai berikut “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan konsep pendidikan islam yakni pendidikan adalah usaha sadar dengan melakukan pembinaan, penciptaan (beda arti dengan penciptaan Tuhan), perbaikan kepada 
peserta didik agar mengembangkan kemampuannya dan membentuk karakternya dengan tujuan menjadi manusia yang bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. 

B.Kutipan Hadits 
a). Pengertian Pendidikan 
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًاس (الاسراء: 24)
Artinya: Ya Allah, sayangilah keduanya (Ibu bapakku sebagaimana mereka telah mengasuhku (mendidikku) sejak kecil. (QS 17 Al Isro : 24)  
Kata Tarbiyah diambil dari kata dasar “Rabba” artinya mendidik. Ini digunakan juga untuk “Tuhan” karena Tuhan juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara dan pencipta.
Juga didalam hadits disebutkan kata,
اِدَّ بَنِيْ رَبِّى فَأَحْسَنَ تَـأْدِيْبِيْ {رواه .البخارى و مسلم }
Artinya : “Tuhan telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku”(HR. Bukhori Muslim ). 
Tarbiyah merupakan sesuatu yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan untuk mencapai kesempurnaan. Rosulullah didik langsung oleh Allah menjadi manusia yang sempurna, sehingga pada diri nabi ada suri tauladan yang baik bagi seluruh manusia. Sebagaimana dikisahkan di dalam buku sirah nabawiyah.
Nabi dilahirkan pada hari senin, 12 Rabiul awwal tahun 571 di Makkah al-Mukarromah, dari kedua orang dua yang mulia, berasal dari keluarga yang paling terhorman di kalangan kaumnya (bani Quraisy). Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Mutholib bin hasyim bin Abdu Manaf bin Qusai. Kakeknya adalah pemimpin kaum dan orang yang ditaati. Ibunya bernama Aminah binti Wahab binti Zahrah, ia termasuk wanita Quraisy yang paling baik, dari segi nasab (keturunan) maupun kedudukan atau status social masyarakat. 
Muhammad SAW lahir dalam keadaan yatim, ayahnya meninggal saat ia dalam kandungan. Saat usianya enam tahun, ibunya meninggal dunia. Kemudia ia diasuh oleh kakeknya Abdul Mutholib. Tidak lama kemudia wafatlah kakeknya, namun sebelum wafat, sang kakek telah menitipkannya kepada Abu Tholib saudara Ayah nabi Muhammad SAW. diasuhnya hingga dewasa hingga diangkat menjadi seorang Rasul. 
Rosulullah tumbuh menjadi anak-anak di desa Bani Sa’ad bin Bakar. Hal ini menjadi kebiasaan bangsa Arab yang tinggal di kota, mencari perempuan desa yang mau menyusui anak-anak mereka dengan tujuan untuk menghindarkan anak-anak mereka dari berbagai mavcam penyakit yang sering menyerang orang-orang kota, dan agar anak-anak mereka memiliki tubuh yang kuat serta dapat berbahasa arab dengan fasih. Ibu susunya bernama Halimah binti Abi Dzuaib as-sa’diyah. Belum genab usia dua tahun, Rosulullah tumbuh menjadi anak yang sempurna (Sirah Ibnu Hisyam).
Ketika nabi berusia empat atau lima tahun terjadi peristiwa Syaq Ash-shodr yakni malaikat membedah dada beliau. Jibril mengambil segumpal dari bagian hati Rasul yang dihinggapi setan untuk dicuci di sebuah mangkuk emas dengan air zamzam kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
Pada saat nabi berusia delapan tahun, beliau dalam asuhan pamannya Abu Tholib yang sangat menyayangi dan menciantainya melebihi kepada yang lainnya. Sejak usia anak-anak Rosulullah mendapatkan pemeliharaan dari Allah SWT dalam permainan dan hiburan music yang biasa dilakukan arab jahiliyah.

b). Proses  pendidikan 
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .   [رواه مسلم]
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “(Riwayat Muslim) 

C.Analisis kritis hadits
Rosulullah pada masa bayi sampai anak-anak tumbuh dilingkungan desa yang kondusif agar terhindar dari segala pengaruh perkotaan. Lingkungan merupakan salah satu faktor dari faktor-faktor pendiddikan yang ada. Lingkungan perpengaruh besar pada perkembangan dan proses pendidikan anak, dalam kelangsungan hidupnya di dalam keluarga, sekolah dan di masyarakat.

Lembaga pendidikan dalam keluarga bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan  berkembang dengan baik, di dalam lingkungan keluarga terletak dasar-dasar pendidikan, melalui rasa kasih sayang yang diberikan oleh orang tua dan anggota keluarga lainnya dengan penuh kecintaan, saling menghormati, kebutuhan akan kewibawaan dan nilai-nilai kepatuhan terpenuhi. 

Gambaran proses pendidikan yang diajarkan Nabi Saw dapat disimak dalam hadis trilogi agama Islam, Iman dan Ihsan. 

Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab ini menyebutkan, ketika Nabi Saw sedang mengadakan halaqah taklim di Masjid Nabawi, tiba-tiba datang seorang  musafir berpakaian serba putih—malaikat Jibril AS—dengan sikap yang sangat sopan sebagai seorang murid bertanya kepada gurunya. Ada tiga hal yang ditanyakan Jibril; islam, iman dan ihsan. Rosulullah saw. Sangat serius mendengarkan pertanyaan anak didiknya (Jibril As) hingga pertanyaan itu selesai, kemudian baru beliau menjawabnya. Anak didik kembali bertanya setelah mendapatkan jawaban dan pendidik mendengarkan dengan seksama dan menjawabnya lagi. Berikutnya Nabi Saw ditanya tentang waktu hari kiamat. Beliau menjawab tidak tahu, tapi kemudian ia (Jibril) menjelaskan tanda-tandanya secara rinci.  

-Islam sebagai gambaran perilaku peserta didik (pendidik dan anak didik) yang meliputi hubungan vertikal dan hubungan horizontal yang tergambar dalam rukun-rukun Islam. 
-Iman menandakan kepatuhan dan keyakinan tentang inti nilai pendidikan Islam yang selalu bermuara pada hakekat hidup,  mengabdi kepada Allah. 
-Ihsan merupakan pengejawantahan nilai-nilai Islam dan Iman yang tertanam dalam bentuk perilaku nyata yang terwujud dalam etika dan akhlak. 
-Seorang muhsin adalah orang yang selalu mewujudkan kebaikan di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun, dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan balasan
Belajar menurut Gagne, Belajar adalah Kapabilitas (Keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai melalui stimulasi lingkungan dan proses kognitif) Proses Kognitif-ubah stimulasi-kapabilitas. Dan menurut Piaget, Belajar merupakan ekplorasi, pengenalan konsep dan aplikasi konsep.

Materi yang disampaikan merupakan materi tentang islam, iman dan ihsan. Materi yang disampaiakan tidak hanya bermuatan kognitif melalui transfer of knowledge, juga menumbuhkan nilai-nilai keimanan yang membentuk karakter peserta didik hal ini merupakan domain afektif didalam taksonomi Bloom dan melahirkan sikap atau prilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari (psikomorik.)

Rosulullah sebagai pendidik
1.Rosulullah SAW telah memilih waktu yang tepat untuk belajar yaitu pada seperempat siang (setelah sholat Dhuha).
2.Memilih tempat yang cocok untuk bertemu dengan para murid dalam rangka kegiatan belajar mengajar (KBM) yakni masjid tempat yang mulia.
3.Ketika jibril datang kepada Nabi, tidak seorangpun dari kalangan sahabat yang mengetahui hakikat dirinya. Dan Rosulullah tidak membedakan perlakuan beliau terhadap murid-muridnya baik yang baru maupun yang lama.
4.Rosulullah sangat serius mendengarkan pertanyaan Jibril (sebagai murid baru) hingga pertanyaan itu selesai dan kemudian dijawab. Perhatian seorang pendidik terhadap pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dapat mempengaruhi jiwa anak didik.
5.Rosulullah memberikan kesempatan kepada murid untuk menyampaikan segala ganjalan yang ada di dalam hati melalui pertanyaan
Jibril sebagai anak didik
1.Memiliki persiapan jasmani dan ruhani
Sebagai murid ia mengenakan pakaian putih dan rapi, ia datang saat seperempat siang.
2.Ia memilih waktu yang cocok. Disaat seorang pendidik atau guru tidak pada waktu istirahat atau sedang berada di tengah-tengah keluarga.
3.Memilih posisi yang dekat dengan pendidik menunjukkan kesungguhan seorang murid dalam mencari ilmu
4.Pertanyaan yang disampaikan anak didik akurat, ringkas dan bermanfaat.
5.Dan yang lainnya

D.Nilai-nilai Tarbawiyah 
1.Pendidikan disebut juga dengan tarbiyah
2.Proses tarbiyah dilakukan oleh Allah, Rosulullah dan umat manusia
3.Tujuan pendidikan atau Tarbiyah adalah Ketaatan (kepada Allah)
4.Proses pembelajaran dilakukan dengan baik karena ada kesiapan pendidik dan anak didik terkait dengan persiapan jasmani dan rohani, kecocokan waktu dan tempat
5.Materi yang disampaikan mengajarkan wawasan pengetahuan, keyakinan, dan amal/praktek


DAFTAR REFERENSI
-http://wawan-junaidi.blogspot.com/2011/06/pengertian-konsep.html 
-http://www.slideshare.net/dipa_234/uu-sisdiknas
-Najib Khalid al-‘Amir, Tarbiyah Rasulullah (Kuwait: Maktabah al-Busyrah al-Islamiyah, 1996) ter. Ibnu Muhammad, cet-ketiga
-Jalalluddin Abdurrahmah bin Abu Bakar as-Suyuti al-Jumi ash-Shagir, Syirkah Ma’arif, (Bandung : t.t), 
-Imam An-nawawi, Terjemah Hadits Arba’in Nawawi, (Jakarta: al:I’tishom, 2008) hal. 7-10

6.ketika mengajukan pertanyaan. 
kata  ini sebenarnya telah memberikan gambaran tentang pendidikan islam
Berbagai usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh Rosulullah kepada umat manusia dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim, yang demikian itu telah mencakup arti pendidikan dalalah mem pengertian sekarang.   Nabi Muhammad sebagai pendidik yang berhasil merubah kaum penyembah berhala, kafir Quraisy yang kasar dan sombong menjadi penyembah Allah, mukmin yang bersifat lemah lembut dan memuliakan orang lain.

Di lihat dari kegiatan Rosulullah diatas, maka satu sisi pendidikan islam lebih banyak mengarah kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi diri sendiri ataupun untuk orang lain dan pada sisi lainnya pendidikan islam tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga bersifat praktis. Senada dengan karakter yang dicanangkan oleh Kemendiknas, mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.  Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut. 
 Prof. Dr. Omar Mohammad al-Toumi al-Syaibany mendefinisikan pendidikan islam dengan “proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi-profesi asasi dalam masyarakat”.   Maka Pendidikan Islam bermaksud memberi pendidikan kepada peserta didik berdasarkan ajaran Islam.  Mendidik juga bermaksud mengasuh, menjaga dan membina supaya seseorang anak itu menjadi baik.  Baik di sini tentulah baik pada pandangan Islam.  Ilmu pengetahuan yang diberi itu ialah suatu wadah dalam pendidikan, maka ilmu pengetahuan harus mengarahkan kepada ketaatan kepada ajaran islam. Maka pokok ajaran yang diinterpretasikan melalui pendidikan yakni iman, islam dan ihsan.

Mendidik ialah kata-kata nasihat supaya murid melakukan sesuatu yang baik.  Menasihati murid supaya melakukan suruhan Tuhan seperti solat, beradab dengan ibu bapa dan guru adalah pendidikan.  Menasihati murid supaya belajar dengan baik dan tekun adalah pendidikan.  Menjaga kebersihan diri, bilik darjah, kawasan sekolah, kantin, padang adalah tuntutan Islam.  Kekemasan diri, bilik darjah, kawasan rumah,   juga tuntutan Islam.  Menasihati pelajar atau murid melakukan semua ini ialah pendidikan Islam namanya. 

Berdasarkan kepada takrifan ini bermakna, tugas pendidikan Islam  bukan terletak kepada ibu bapa dan guru agama sahaja, malah kepada semua orang Islam.  Kalau di rumah, ibu bapa dan keluarga itu yang bertanggungjawab memberi pendidikan Islam.  Manakala di sekolah pula, semua guru yang beragama Islam adalah bertanggungjawab memberi pendidikan Islam kepada semua murid Islam.  Guru agama atau istilah sekarang guru Pendidikan Islam, lebih luas tanggungjawabnya; pertama menyampaikan pengetahuan Islam dan kemudian mendidik dengan pendidikan Islam.  Masyarakat pula bertanggungjawab untuk menghidupkan budaya Islam di dalam masyarakat.   Ini termasuklah percakapan, pergaulan, permainan, urusan harian dalam hal ekonomi, politik, sosial, teknikal dan sebagainya. 

Kalau di sekolah guru mengajar supaya pelajar melakukan sesuatu yang baik atau sesuatu suruhan Tuhan, seperti solat, tutup aurat dan sebagainya, manakala dirumah ibu bapa tidak menunaikan solat dan tidak menutup aurat menurut kehendak Islam, bermakna ibu bapa tidak mendidik anaknya dengan pendidikan Islam dalam aspek tersebut.  Sama juga  dengan  sekolah.  Jika guru Pendidikan Islam mengajar dan mendidik pelajarnya dengan perkara-perkara yang dituntut oleh Islam seperti di atas, tetapi guru lain tidak melakukannya, bermakna guru Islam tidak mendidik pelajarnya yang beragama Islam supaya menghayati ajaran Islam.  Ini bermakna, guru tersebut tidak mendidik pelajarnya dengan pendidikan Islam.  
    Demikian jugalah dengan masyarakat.  Jika masyarakat tidak membanteras segala perkara yang bertentangan dengan ajaran Islam yang wujud dalam masyarakat tersebut, sebaliknya menganjurkannya pula, bermakna masyarakat tersebut tidak mendidik anak buahnya dengan pendidikan Islam, malah sebaliknya meruntuhkan Islam.  Kalau inilah yang berlaku, pendidikan Islam yang dilakukan oleh guru Agama dalam bilik kelas itu tidak akan berkesan.  Dengan demikian, jika berlaku sesuatu yang tidak diingini dalam masyarakat, seperti keruntuhan akhlak dan sebagainya, maka jangan disalahkan orang lain.  Kerana itu yang dikehendakai oleh ibu bapa, guru dan masyarakat. Setiap orang akan menegakkan benang basahnya dengan mengatakan ia betul dan orang lain yang salah seperti cerita bangau oh bangau, tetapi kita lupa, bahawa setiap orang akan menjawabnya di hadapan Tuhan. 
    Malah, dalam pengajaran Pendidikan Islam itu sendiri, jika guru tidak hati-hati, guru hanya menyampaikan maklumat atau pengetahuan Islam sahaja, guru berkenaan tidak mendidik dengan pendidikan Islam.  Misalnya, guru Pendidikan Islam atau guru agama mengajar pelajarnya dengan tajuk Syarat Wajib Jumaat.  Di akhir pelajaran pelajarnya dapat menyebut syarat-syarat tersebut, maka ini baru tercapai objektif pelajaran.  Guru tersebut, sebenarnya belum lagi mendidik pelajarnya dengan pendidikan Islam.  Pendidikan itu ialah kata-kata nasihat supaya pelajar menghayati ajaran Islam.  
    Kalau dalam tajuk ini, guru hendaklah menasihati pelajarnya (lelaki) supaya menunaikan solat Jumaat.  Lebih baik lagi, guru mengiringi pelajar ke masjid.  Dan sebelum ke masjid,  guru patut juga mendidik pelajarnya.  Iaitu menasihatkan pelajar supaya jangan bising di masjid.  Duduk dengan tertib di dalam masjid dan membaca apa-apa zikir yang baik, seperti membaca al-Quran atau selawat ke atas nabi.  Jika ini berlaku, maka barulah dikatakan mendidik dengan pendidikan Islam.  Demikianlah seterusnya dalam tajuk-tajuk yang lain, atau pun pelajaran-pelajaran yang lain yang bukan mata pelajaran agama.  Bagi guru yang kreatif, ia boleh memasukkan pendidikan Islam melalui pelajarannya. 
    Ini bermakna, bahawa pendidikan Islam itu mempunyai dua maksud.  Pertama bermaksud pendidikan Islam khusus. Iaitu yang merangkumi pelajaran tradisional seperti aqidah, ibadah, tafsir, sejarah, hadis dan sebagainya.  Kedua ialah pendidikan Islam umum, yang mana ia merangkumi semua kata-kata nasihat yang boleh membangunkan potensi yang ada pada setiap pelajar melalui semua mata pelajaran sekolah serta melewati segala aspek hidup.  Inilah yang dikatakan pendidikan Islam. 

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .   [رواه مسلم]
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. 
(Riwayat Muslim)

ANALISA KRITIS KANDUNGAN HADITS
Konsep pendidikan Islam yang diajarkan Nabi Saw dapat disimak dalam hadis trilogi agama Islam, Iman dan Ihsan. Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab ini menyebutkan, ketika Nabi Saw sedang mengadakan halaqah taklim di Masjid Nabawi, tiba-tiba datang seorang  musafir berpakaian serba putih—malaikat Jibril AS—dengan sikap yang sangat sopan sebagai seorang murid bertanya kepada gurunya. Ada tiga hal yang ditanyakan Jibril; islam, iman dan ihsan. Rosulullah saw. Sangat serius mendengarkan pertanyaan anak didiknya (Jibril As) hingga pertanyaan itu selesai, kemudian baru beliau menjawabnya. Anak didik kembali bertanya setelah mendapatkan jawaban dan pendidik mendengarkan dengan seksama dan menjawabnya lagi . Berikutnya Nabi Saw ditanya tentang waktu hari kiamat. Beliau menjawab tidak tahu, tapi kemudian menjelaskan tanda-tandanya secara rinci. 

Dalam hadis ini dapat disimpulkan bahwa konsep dan materi pendidikan Islam harus mencakup tiga hal; Islam, Iman dan Ihsan. Islam sebagai gambaran perilaku peserta didik (pendidik dan anak didik) yang meliputi hubungan vertikal dan hubungan horizontal yang tergambar dalam rukun-rukun Islam. Iman menandakan kepatuhan dan keyakinan tentang inti nilai pendidikan Islam yang selalu bermuara pada hakekat hidup,  mengabdi kepada Allah. Sedangkan Ihsan merupakan pengejawantahan nilai-nilai Islam dan Iman yang tertanam dalam bentuk perilaku nyata yang terwujud dalam etika dan akhlaq. Seorang muhsin adalah orang yang selalu mewujudkan kebaikan di mana pun, kapan pun dan kepada siapa pun, dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan balasan.

Menurut zakiah darajat ajaran islam tidak memisahkan antara iman dan amal sholeh. Oleh karena itu pendidikan islam adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal. Dan karena ajaran islam berisi berisi tentang ajaran tentang sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat, menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, maka pendidikan islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat.

Nilai-nilai tarbawiyah yang bisa diambil
1.Nabi sebagai seorang pendidik
2.Malaikat jibril sebagai anak didik
3.Materi pelajaran 
4.Sistem pembelajaran

159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

[246] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel